Monday, 18 March 2013

Suket, Rumput Liar yang Tangguh


Suket, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut rumput adalah tanaman liar yang bisa tumbuh dimana saja, terutama di tempat yang lembab, namun tetap terkena cahaya matahari. Suket bisa tumbuh di sawah, di halaman rumah, di tanah lapang, di pinggir jalan, dan di berbagai tempat lainnya.
Bentuknya kecil, tidak tumbuh tinggi, batangnya pun kecil, dan berdaun sempit. Kebanyakan orang menganggapnya ilalang. Ya, ilalang pengganggu yang dianggap harus dibasmi. Tak banyak orang yang meremehkan. Bahkan menginjak-injak hingga memangkasnya. Tapi ia tetap berdiri dan mempertahankan diri. Apapun yang terjadi. Selama itu masih bisa membuatnya tetap bertahan dan akar masih tertancap dalam tanah.
Suket berusaha menunjukan bagaimana seseorang harus bisa bertahan dalam menghadapi apapun. Ya, seperti suket. Yang selalu berusaha tetap tegar, dalam segala keadaan. Panas, terik, hujan, badai, pangkasan manusia, dan berbagai terjangan lainnya. Suket berusaha untuk selalu mempertahankan keberadaannya untuk tetap mewarnai dunia dengan warna hijaunya yang menyejukkan.
Meskipun suket selalu dianggap sebagai benalu dan beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai perusak pemandangan. Namun, suket tak pernah luput menunjukkan keberadaannya dengan segala ketangguhannya untuk meraiih eksistensi dan pengakuan atas keberadaannya di dunia.
Suket tidak akan pernah marah ketika suket direndahkan, diinjak dan dianggap sebagai benalu. Suket tetap berusaha dapat menempatkan dirinya sesuai tempatnya. Suket sangat mengerti akan dirinya yang memang kecil, lemah tak berdaya. Tak pernah mengeluh meskipun tak pernah dianggap. Suket berusaha membagi kebahagian akan kehijauan dirinya untuk mewarnai dunia.
Ketika suket mulai mengering setelah dipangakas oleh para manusia. Suket tetap berusaha memberikan manfaat. Misalnya dirangkai menjadi anyaman tikar, atau bahkan jika ditangan seorang seniman wayang, suket yang telah mengering akan menjadi sebuah tokoh wayang yang dapat manjadi lakon dalam pertunjukkan. Luar biasa!
Tokokh Cerita dari Rerumputan, yaitu sang dalang Wayang Sukut juga mengatakan bahwa suket adalah symbol semangat orang hidup, tetap harus tumbuh terus-menerus apapun yang terjadi. Suket juga menjadi symbol filosofi bahwa hidup itu harus terus berjalan. Suket menjadi perlambang ketabahan. Manusia itu tidak boleh rapuh dan lemah. Analoginya, suket! Ya, suket bisa menjadi contohnya.
Batapapun susahnya dan rumitnya hidup, anggaplah hidup itu seperti pelangi yang penuh warna. Dengan berbagai cara kita menghadapinya. Seperti suket. Ia akan tetap tumbuh meskipun  manusia-manusia menginjak dan memangkasnya.
Konsep pertunjukkan Wayang Suket adalah penyutradaraannya lebih menstimulus setiap pemain untuk memunculkan gagasan-gasasannya, gaya hidupnya, dst, diruang yang sudah diciptakan, ruang pelataran – Ki Slamet Gundono (dalang Wayang Suket).
Dilihat dari segi pengambilan gambar, menarik, bagus dan menggambarkan secara utuh mengenai apa yang diceritakan. Gambar dan narasi beriringan dan sesuai, sehingga orang yang melihatpun akan mengerti tentang apa yang diceritakan di dalamnya. Ya analogi dan filosofi tentang SUKET.
 Inspirasi yang dilahirkan dari penayangan Cerita dari Rerumputan adalah memotivasi hidup manusia. Dengan mengerti tentang filosofi suket, sangat diharapkan bahwa seberat apapun cobaan dalam hidup, sesulit apapun rintangan yang menghadang di depan mata, dan sebesar apapun tantangan yang selalu mengiring, manusia harus dapat melewatinya dengan ketangguhan yang dimiliki setiap orang. Tujuannya tidak lain adalah memotivasi manuisa agar tidak mudah putus asa dengan apa yang ada dalam hidupnya. Selalu melihatkebawah untuk dapat bersyukur dan selal melihat keatas untuk memotivasi diri agar tidak cepat puas dengan apa yang telah dicapai. Hidup adalah bagaimana kita berusaha dan bertahan dengan ketangguhan diri.
Pada dasarnya, manusia tidak mempunyai keinginan untuk merusak, sebabnya adalahketidak sengajaan atau karena keterdesakan segalaha. Hidup harus di hadapi dengan apa adanya! - Ki Slamet Gundono




Wednesday, 13 March 2013

Bersaudarakah Mereka?


“Selamat datang (di Indomaret/Alfamart), selamat berbelanja!”
Sapaan yang selalu gue terima tiap kali buka pintu kedua minimarket itu, dimanapun! Minimarket yang hampir selalu berdampingan. Udah hampir kayak gula ama semut terus perangko ama amplopnya. Heran! Bisa dipastiin dimana ada alfamart dibuka, pasti ada indomaret di deket alfamart itu. Sebaliknya juga, dimana ada indomaret dibuka, bisa dipastiin hampir selalu ada alfamart yang ikutan buka dengan jarak yang ga terlalu jauh. Entah apa maksudnya. Mungkin mau nunjukin begitulah ‘kerukunan’ di dunia bisnis, terutama waralaba, kayak mereka itu.
Atau mungkin bersaudarakah mereka? Entahlah. Tapi coba liat ikon mereka masing-masing. Hampir sama, mirip! Kayak kakak-adek. Sama-sama serangga unyu berantena dua (satu semut satunya lagi lebah) berbaju merah yang mungkin sengaja didesain buat narik perhatian calon pelanggan.
Ga cuman ikon, bahkan warna identitas mereka pun cuman beda satu garis warna. Yang satu merah-biru-kuning, satunya lagi merah-kuning. Produk-produk yang dijual juga sama. Bahkan mereka juga sama-sama produksi berbagai barang dengan brand mereka sendiri (air mineral, kapas, tisu, dll).
Masalah harga, Gue rasa mereka saling melengkapi. Ga semua lebih mahal di alfamart dan ga semua lebih murah di indomaret (tapi tetep lebih murah di toko kelontong, kecuali pas ada promo). Begitulah faktanya! Janjian kah? Apa malah mereka satu bapak? Haha.
Gampang banget nemuin kedua minimarket ini.ga perlu susah-payah nyarinya. Kalo kata temen gue malah “mereka itu ada dimana-mana”. Buat gue, saking banyaknya dan bercecerannya mereka di pinggir jalan, sampe bisa buat penanda jalan kalo lagi nyasar. Pinter deh milih tempat buka gerai! Kayak sengaja ngegampangin orang buat nemuin mereka. Ga mau resiko dong tentunya buat ngambil tempat yang sepi. Selalu di pinggir jalan raya yang emang sering dilewatin kendaraan dan gampang dijangkau.
Desain tempatnya juga sama. Diterangi banyak lampu neon biar kesannya mewah terus ditambah sama AC deh. Dimanapun dua minimarket itu, ya pasti tempatnya begitu. Pastinya juga ada tempat-tempat/rak-rak buat nyusun barang-barang eceran yang dijual. Kalo pas lagi ada promo, tempelan keterangan promo nempel disetiap rak, juga dipasang di plang depan gerai. Dibagian belakangnya ada semacem pintu buat akses ke gudang yang cuman boleh dimasukin sama karyawannya. Bagian depan deket pintu selalu ada minimal 1 kasir yang ngelayanin pembayaran.
Sekarang, beberapa gerai udah mulai nambahin fasilitas semacem kursi-kursi sama meja di depan gerai. Konsepnya kayak Sevel gitu. Jadi kayak bikin kafe mini. Produk yang dijual juga nambah. Ada burger siap makan, ada puddingnya, ada minuman soda yang bisa ambil sendiri, ada kopi yang bisa langsung seduh di tempat, dll. Udah kayak sevel-sevelan deh pokoknya.
Ohiya, buat slogannya sendiri intinya sama, bejanja hemat. Yang satu “mudah dan hemat”, satunya lagi “belanja puas harga pas”. Kalo buat gue, sebagai anak kost yang paling hobi ngecek harga paling murah (demi hemat duit bulanan), kedua minimarket itu justru ngejual barang dengan harga (sedikit) lebih mahal dari harga di pasaran, misalnya kantin, koperasi, toko kelontong bahkan supermarkel sekalipun. Maklum, yang namanya anak kost kayak gue ini agak perhitungan kalo masalah perbedaan harga. Beda Rp 100,00 aja jadi perhitungan. Haha. Tapi kalo udah urgent mah harga jadi nomer 2, yang penting barangnya ada.
Bisa jadi dengan banyak kemiripan yang gatau disengaja apa engga dan keberadaan mereka yang selalu deketan,  mereka bersaudara, atau mungkin malah satu bapak. Tapi? Apa iya? Ah, sudahlah, itu urusan mereka. Gue mah cuman jadi konsumen promo mereka saja.

Monday, 11 March 2013

LARA BUMI ACEH

(Acehku Sayang)
DESKRIPSI FILM:

Dari film dokumenter Atjeh Lon Sayang ­(A film by: Syaiful H. Yusuf): Gempa yang disusul Tsunami, bencana luar biasa yang memporakporandakan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Bencana ini membuat banyak dari penduduk dunia tercengang. Apalagi jika melihat berapa banyak korban jiwa yang terenggut ataupun hilang dan bagaimana cara mempertahankan diri. Ratusan bahkan ribuan bangunan kokoh runtuh, melebur dengan tanah yang basah tergenang air. Sebagian warga Aceh yang mempunyai pikiran positif akan mengatakan bahwa, semua itu adalah cobaan dari Allah SWT. Namun, sebagian lainnya yang memiliki pandangan berkebalikan, maka ia akan mengadu dan dan bahkan mengeluh dengan apa yang menimpa tanpa introspeksi diri.
Mereka yang menjadi korban sekaligus saksi hidup “Tsunami Aceh” hanya bisa tertegun melihat keporakporandaan yang ada disetiap dan sejauh pandangan mata. Mereka harus melihat ratusan manusia tak bernyawa mengapung dihadapan mereka, tanpa tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka harus melihat keadaaan yang terlalu pahit untuk diingat dikemudian hari. Acehku sayang Acehku malang. Mungkin itu yang terbesit dalam benak saksi-saksi hidup saat menyaksikan asinnya air laut menerjang daratan yang mengubah manisnya hidup menjadi sebuah kepahitan yang membekas.
Tipuan surutnya air laut yang menggiurkkan anak-anak pesisir pantai untuk memungut ikan yang bercecer di tepi pantai justru membawa petaka. Ombak besar bahkan lebih dari besar menggulung dan menerjang mereka dari belakang. Terhempas. Ya tubuh-tubuh mungil lemah tak berdosa terhempas menghantam kerasnya beton-beton bangunan yang dalam sekejap juga ikut hanyut terbawa ombak yang mengalirkan arus begitu derasnya ke tengah kota. Seketika laut meluas, menggarami keperihan bumi Aceh. Orang-orang panik. Banyak, mungkin terlalu banyak korban jiwa mengalir bersamaan dengan dengan air laut. Banyak anak yang kehilangan rumah, bahkan orangtua. Tak akan terpikir oleh mereka sebelumnya. Hidup sendiri tanpa siapapun.
Terlalu lemah untuk bocah lugu tak berdosa untuk hidup sendiri. Dan terlalu riskan untuk mereka hidup sebatang kara. Mental dan segala kondisi lainnya harus segera diperbaiki demi masa depan mereka. Anak-anak butuh tempat nyaman untuk mereka berbagi, bermain dan menghabisakan waktu. Teuku Abdul Razak dan Teuku Reza Idria. Beliau-beliaulah yang tanggap dan peduli pada korban terutama anak-anak. Memberikan kesempatan dan kebebasan untuk bermain dan melupakan apa yang telah terjadi.
Terlalu banyak konflik dan benih kebencian di negeri Aceh. Tidak hanya untuk Tanah Air Indonesia, tetapi kepada sesama orang Aceh. Introspeksi. Ya, mungkin itu yang harus dilakukan. Segala yang terjadi tak mungkin Tuhan tak punya alasan. Bersatulah Bumi Serambi Indonesia.
‘Bangkit Aceh’ sebuah kegiatan yang diusung oleh seniman asal Aceh, Teuku Reza Idria. Acara untuk mengajak korban gempa dan tsunami Aceh berdoa dan berdzikir pada Allah SWT. Sangat disayangkan, acara ini kurang menarik bagi para korban. Tak ada antusias. Teuku Reza Idria merasa bencana dahsyat ini masih kurang mempan untuk dijadikan pelajaran untuk introspeksi dan berubah menjadi lebih baik.

Teuku Abdul Razak, ia adalah salah satu pengasuh Dayah yang menampung anak-anak yang kehilangan keluarganya. Para pengasuh berusaha memberikan apa yang anak-anak butuhkan. Termasuk kasih sayang, hingga mereka merasa tak sendiri lagi. Mereka bermain, mengaji dan melakukan segala kegiatan lainnya dengan bebas. Sesuai apa yang mereka mau. Mereka berusaha untuk terus mengisi hari-hari mereka bersama teman-teman sebayanya. Karena ketika mereka duduk sendiri ditengah sepinya suasana, bayangan mengerikan akan gempa dan tsunami itu menyeruak kembali seolah menjadi teror yang membayangi kesunyian. Mengerikan!
PEMBACAAN FILM:
Dari film dokumenter tersebut terlihat ada beberapa hal yang ingin disampaikan kepada pemirsa, antara lain:
 Ø Bencana Dahsyat
Tayangan Aceh Lon Sayang jelas menggambarkan bagaimana dahsatnya bencana yang menerpa hingga meluluh-latakan semua yang berdiri, pohon, beton-beton bangunan kokoh, bahkan manusia dan segala yang ada dihadapannya. Air laut yang luar biasa dahsyat mampu mengoyak segalanya. Tsunami meninggalkan luka kepedihan dan kepahitan bagi korbannya. Korban yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.
 Ø Kesakitan, Kepedihan dan Ketakutan
Pembacaan puisi di awal yang begitu menghayati dangan pengambilan gambar yang pas dapat mewakili bagaimana sakitnya, pedihnya, dan perihnya tsunami itu. Tsunami yang membuat kepanikan dan ketakutan akan kehilangan yang bersamaan dating bersama kesedihan. Bencana yang akan tetap menjadi kenangan pahit nan menyakitkan. Terutama bagi anak-anak tanpa dosa yang harus kehilangan orangtuanya.
 Ø  Porak-Poranda, Luluh Lantak
Semua berubah seketika. Beton-beton bangunan kokoh melebur bersama terjangan derasnya arus air laut. Kendaraan-kendaraan mengapung, hanyut bersama bongkahan-bongkahan kayu, sampah bahkan manusia tak bernyawa. 60 KM. Jarak yang luas. Walaupun tidak seberapa dibandingkan dengan luas Aceh secara keseluruhan. Namun, keporak-porandaan ini termasuk sampai ke Ibukota, Banda Aceh. 
 Ø Kehilangan
Semua meresa kehilangan. harta, benda, bahkan nyawa sanak saudara. Banyak dari korban yang tidak ditemukan. entah sudah meninggal, atau hilang entah dimana. Kehilangan membuat anak-anak polos tanpa dosa tak tau harus berbuat apa. Terlalu berat untuk mereka hidup sendiri. Ditengah upaya menyelamatkan diripun masih ada upaya untuk mencari orang tua dan sanak saudara. Tapi apa daya mau dikata.
 Ø Kepedulian
Tak banyak orang yang mau peduli dengan kesusahan dan kesakitan yang dirasakan para korban. Mungkin terlalu rumit. Namun, tetap ada beberapa orang yang masih peduli dengan keadaan korban. Terutama bagi anak-anak yang menjadi korban, Teuku Reza Idria dan TeukuAbdul Razak, adalah dua orang dari sekian yang peduli dengan para korban. Beliau-beliau ingin membalut dan megobati luka-luka hati,jiwa dan raga yang tebuka lebar pasca terkena asinya air laut. Terganbarkan jelas betapa pedulinya beliau-beliau dengan keadaan para korban. Terutama anak-anak sebagi generasi penerus bangsa.


Inspirasi yang Didapat dari Film:

Aceh, daerah istimewa yang sempat goyah dan terkoyak karena bencana yang super dahsyat yang menewaskan ratusan ribu korban jiwa, meluluh lantakkan bangunan rata dengan tanah, bahkan hilang, hanyut terbawa arus, menumbangkan pohon-pohon. Semua berantakkan. Tapi Aceh dengan segala relawan dengan kepedulian tinggi dan tingkat kekuatan serta keinginan yang tinggi untuk kembali bangkit mewujudkannya. Aceh tidak lantas menjadi kota mati. Namun semua bergerak untuk kebangitan dan membangun kembali Aceh. Kepedihan, kesedihan dan kesakitan bukan mebjadi penghalang untuk tetap pertahan dan terus bangkit. Ya itulah Aceh. Semoga semakin bisa bersatu tanpa ada kesenjangan.

Monday, 4 March 2013

Kantin Ber-Gadget

Kantin poltek, siang ini kayak biasanya, bukan mahasiswa Poltek yang menuhin buat makan siang. Tapi malah lautan biru seragam IM Telkom yang keliatan di bangku-bangku kantin. Kalo masalah ini ga tau mulainya dari kapan. Ah, sudah, lupakan! Kali ini kita bukan bahas itu. Tapi bahas orang yang gue amatin selama tadi Gue ada di kantin.
Namanya juga jam makan siang, pastilah yang namanya kantin itu penuh. Akhirnya kita (gue, Prima, Wilda sama Manda) berjibaku buat nyari tempat kosong. Nemulah kita 1 bangku kosong dipojok luar kantin Poltek. ternyata udah ada 2 cewe yang masing-masing lagi main gadget duduk disebelah bangku kita. Yang satu asik main game, yang satu ga jelas main gadget buat apa, abisnya pake anti spy sih, jadi ga keliatan (ceritanya kepo).
Kebetulah ada tugas buat ngamatin orang, yaudah, gue putusin buat amatin mereka. Mereka temen satu prodi kita. Ica sama Fanny. Tapi disini gue  cuman mau deskripsiin salah satunya doang (yang udah pernah kenal).
Namanya Anisa Azlina, panggil dia Ica. Dia temen satu prodi Gue, IKOM, cuman beda konsentrasi. Dia Marcomm, gue broadcast. Emang ga terlalu kenal sih, cuman sebatas tau. Jadi gue bakalan deskripsiin sebatas apa yang gue tau dan gue liat aja.
Ica itu seorang cewe berkulit putih pucat, rambutnya panjang direbonding, masalah tinggi badan, dia itu ga terlalu tinggi ga terlalu pendek juga,  feminim (soalnya gue liat dia lebih sering pake rok daripada celana), kalo masalah cantik apa engganya itu relatif dan terakhir dia orang Bogor (soalnyadia temennya temen gue, haha). Itu aja sih kayanya yang gue tau dari Ica. Harap maklum, ga deket juga sih (semoga ga sotoy).
Kesimpulan gue, dulu kantin itu cuman jadi tempat makan. Tapi sekarang, jadi tempat main gadget, nogkrong dan sebagainya. Entah apa aja yang mereka lakuin sama gadgetnya itu, ga bisa lebih kepoin satu-satu dari masing-masing orang yang ada di kantin. Hal yang sama kayak yang orang-orang lakuin di zaman sekarang, termasuk gue (meskipun gadget minjem). Kantin, sekarang bisa jadi tempat makan sekaligus nogkrong juga main gadget.
Sebenernya kebetulan aja ketemunya Ica ama Fanny pas di kantin, jadi akhirnya mereka yang jadi objek yang Gue amatin. Nyatanya banyak yang bisa Gue amatin dengan perilaku yang sama, berhubung tugasnya ngematin orang yang dikenal, yaudah, waktu itu adanya itu. Maaf yaa ga izin dulu J.

Sunday, 3 March 2013

Mimi Rasinah, Sang Maestro Tari


Deskripsi Film:


Dari film dokumenter Selamanya Mutiara (A film by: Syaiful H. Yusuf): Mungkin inilah yang disebut kecintaan yang luar biasa, profesionalitas dan totalitas dalam mengabdi untuk terus melestarikan kebudayaan nusantara. Kecintaan dan keinginan Mimi Rsianah, seorang maestro tari dari Indramayu yang namanya telah tersohor di dalam maupun luar negeri itulah yang membuatnya gigih dan terus bertahan untuk tetap berkarya sampai akhir khayatnya.
Mimi Rasinah adalah seorang wanita yang usianya sudah tidak bisa disebut muda lagi, ya, paruh baya tepatnya. Namun, hal itu tak menghalanginya untuk terus berada diatas panggung, menari mengikuti alunan musik gemelan. Dengan gerakan-gerakannya yang memukau penontonnya. Tidak heran. Mimi Rasinah telah mulai menari sejak masih berumur 5 tahun. Ayahnya, Lastra yang juga adalah penari menjadi guru yang mengajarkannya hingga menjadi seorang penari handal.  Diusianya yang menginjak 7 tahun Mimi Rasinah mulai diajak untuk mengamen di berbagai tempat seputaran Jawa Barat.
Ayahnya pula lah yang menunjuknya untuk menjadi seorang penerus Tari Topeng, khususnya Tari Panji. Ketika usianya menginjak 9 tahun, ia harus melakukan ritual untuk bisa menjadi seorang Penari Panji dan berbagai tari topeng lainnya, Tirakat namanya. Saat itu Mimi Rasinah masih sangat muda untuk mengerti apa arti ritualnya. Disiplin tinggi selalu Lastra terapkan pada setiap latihan Mimi Rasinah. Akan ada hukuman ketika kesalahan dilakukan. Setelah dirasa menguasai semua jenis tari topeng, Mimi Rasinah diberikan warisan topeng Panji yang telah turun temurun diberikan.
Meskipun namanya telah mendunia, namun ia beserta murid-murid di sanggar tarinya tetap menerima tawaran manggung di acara-acara kecil, misalnya hajatan. Mimi Rasinah tidak pernah memilih-milih ketika ada tawaran manggung. “Seorang seniman ga boleh milih-milih” pernyataan Aerly, cucu Mimi Rasinah mempertegas. Cucu-cucu Mimi Rasinah dan anak muridnya di sanggarnya sangat terharu, terkesan dan kagum akan kegigihan Mimi Rasinah, sehingga mereka bertekad untuk juga meneruskan perjuangan Mimi Rasinah untuk melestarikan dan meneruskan sanggar tari topengnya yang tidak hanya mengajarkan tari, namun juga mengajarkan bagaimana memainkan gamelannya.

Pembacaan Film:
Dari film dokumenter tersebut terlihat ada beberapa hal yang ingin disampaikan kepada pemirsa, antara lain:
Ø  Tradisi dan Kesenian
Dalam film ini diperlihatkan sebuah tradisi dan kesenian di Indonesia yang masih dijalani seorang Mimi Rasinah sebagai penari bahkan maestro tari. Mimi rasinah beserta sanggar tarinya. Dan bahkan ia menjalankan tradisi “tirakat” sebelum ia menjadi penari topeng yang sesungguhnya, seperti sekarang.
Ø  Perjuangan
Film ini menggambarkan bagaimana Mimi Rasinah berjuang dan memperjuangkan apa yang harus Mimi Rasinah perjuangkan. Tari Topeng. Yah itu dia! Mimi Rasinah berusaha untuk mengenalkan Tari Topeng dimanapun dan kepada siapapun. Tidak memandang tampat dan kelas. Dengan segala keterbatasan yang ia miliki, ia tetap memiliki tekad untuk tetap menari. Apapun konsisinya dia akan tetap menari, usia ataupun keterbatasan fisik tidak akan mengahalangi, kecuali jika Tuhan memanggilnya.
Setiap angle pengambilan gambar memperlihatkan setiap detil perjuangan yang dilakukan dan  keindahan lekuk tariannya yang memukau yang dapat mencerminkan sebagaimana kegigihannya dalam mengabdi dan demi melaksanakan apa yang telah diturun-temurunkan padanya.
Ø  Harapan
Sekalipun tidak terungkap dan diungkapkan, namun tersirat harapan bahwa Mimi Rasinah ingin Tari Panji dan tarian tradisional beserta permainan gamelannya tetap ada dan tetap lestari. Hal ini terbukti dengan segala perjuangannya yang tidak pernah lelah dan tidak pernah berhenti hingga Mimi Rasinah meninggal. Salah satu harapan yang diungkapkannya adalah keinginan untuk naik haji. Digambarkan dengan scene Mimi Rasinah yang sedang solat, hingga terlihat sisi religiusnya.
Ø  Inspirasi
Sangat terlihat bahwa film Selamanya Mutiara ini ingin menyampaikan, memberikan dan mendatangkan inspirasi kepada pemirsanya. Film ini dikemas secara apik namun tetap sederhana, sehingga pemirsa dapat maksud yang disampaikan.

Inspirasi yang Didapat dari Film:
Mimi Rasinah memberikan inspirasi kepada kita semua, terutama para generasi muda penerus bangsa agar memiliki hasrat atau keinginan untuk mempelajari dan selanjutnya melestarikan kebudayaan dan atau kesenian yang kita miliki sebagai warisan leluhur. Setidaknya hal ini dapat meminimalisir pengakuan oleh negara lain terhadap kebudayaan dan kesenian yang kita miliki. Dapat kita lihat betapa gigih dan cintanya Mimi Rasinah hingga ia memutuskan untuk menjadi penari sampai akhir khayatnya. Mimi Rasinah juga menaruh sebuah harapan melalui tariannya, ia berharap dapat melaksanakan rukun Islam yang terakhir, pergi Haji, sungguh harapan yang sangat mulia.
Kini, Aerly, cucu perempuannya yang meneruskan sanggar tarinya beserta berbagai tariannya. Aerly dapat menjadi contoh bagi para generasi muda. Ia mau mengabdi untuk meneruskan apa yang telah diperjuangkan neneknya.